Rayap FeromonFeromon Penanda Jejak dan Pendeteksi Makanan

Telah merupakan satu dictum bahwa rayap (pekerja dan prajurit) tidak mempunyai mata (buta). Dan memang bila dipikirkan mereka di dalam tanah tidak memerlukan indra penglihatan. Mereka jalan beriringan atau dapat menemukan obyek makanan bukan karena mereka mampu melihat atau mencium melalui hidung. Kemampuan mendeteksi dimungkinkan karena mereka dapat menerima dan menafsirkan setiap bau yang special bagi kehidupannya melalui lubang-lubang tertentu yang terdapat pada rambut-rambut yang tumbuh di antenanya. Bau yang dapat dideteksi rayap berhubungan dengan sifat kimiawi feromonnya sendiri. Feromon adalah hormon yang dikeluarkan dari kelenjar endokrin. Feromon menyebar ke luar tubuh dan mempengaruhi individu yang lain sejenis (satu koloni). Untuk dapat mendeteksi jalur yang dijelajahinya, individu rayap yang berada di depan mengeluarkan Feromon Penanda Jejak (Trail Following Pheromone) yang keluar dari kelenjar Sternum (Bag. Bawah abdomen) yang dapat dideteksi rayap yang ada di belakangnya. Sifat kimiawi ini erat hubungannya dengan bau makanannya sehingga rayap mampu mendeteksi obyek makanannya. Jadi pada saat individu rayap menemukan makanan maka individu rayap "menurunkan pantat-nya" guna meninggalkan feromon sehingga feromon makin "tebal" yang akan menarik rayap-rayap yang lain (masih dalam satu koloni yang sama) seperti terlihat di gambar yang bagian bawah. Sebaliknya bila individu rayap tersebut tidak menemukan makanan maka individu rayap tersebut "menaikkan pantatnya" sehingga feromon tersebut "tipis" yang menandakan agar rayap-rayap yang lain tidak perlu melewati jalur tersebut.

 

Feromon Dasar : Pengatur Perkembangan

Di samping feromon penanda jejak, para pakar etologi (perilaku) rayap juga menganggap bahwa pengaturan koloni berada di bawah kendali feromon dasar (Prime Pheromone), misalnya, terhambatnya pertumbuhan/pembentukan neoten disebabkan oleh adanya semacam feromon dasar yang dikeluarkan oleh ratu yang berfungsi menghambat diferensiasi kelamin. Segera setelah ratu mati,  feromon ini hilang sehingga terbentuk neoten-neoten pengganti ratu. Tetapi kemudian neoten yang telah terbentuk kembali mengeluarkan feromon yang sama sehingga pembentukan neoten yang lebih banyak dapat dihambat. Feromon dasar ini juga berperan dalam diferensiasi pembentukan kasta pekerja dan kasta prajurit yang dikeluarkan oleh kasta reproduksi.

Perbandingan banyaknya neoten, prajurit, dan pekerja dalam satu koloni biasanya tidak tetap. Koloni yang sedang bertumbuh subur memiliki pekerja yang sangat banyak dan jumlah prajurit yang tidak banyak (sekitar 4%). Sebaliknya koloni yang mengalami banyak gangguan (misalnya karena terdapat banyak semut di sekitarnya) akan membentuk lebih banyak prajurit (bisa sampai 10%) karena diperlukan untuk mempertahankan sarang. 

Who's Online

We have 47 guests and no members online

JSN Decor template designed by JoomlaShine.com